Manusia Tanpa Kepala

Aku terhenyak dari tidurku yang panjang. Memicingkan mata, menyesuaikan arah cahaya. Ini bukan tempatku tertidur tadi malam, namun ditempat inipun langit masih menghitam. Aku terduduk di depan toko yang sudah mati. Kota itu nyaris sunyi dan tak seorangpun kutemui. Kuberanikan diri, melangkahkan kaki menuju cahaya lain di sudut sisi. Kulihat seseorang duduk di ujung jalan, merenung dan menunduk

Aku tersontak ketika tiba dihadapan orang itu. Ia hidup tanpa kepala. Kupukul keras pipiku untuk menyadarkan dari mimpi, sayangnya hanya sia-sia yang kumiliki

“Jangan kau pukul lagi, nanti kau mati. Ini bukan mimpi, bukan juga ilusi” sapa seorang anak kecil dari belakangku. Anak kecil perempuan berambut lurus panjang dengan mata besar berwarna merah datang menghampiriku. Wajahnya ceria, senyuman menggantung manis dibibirnya tanpa cela

“Kamu kenal orang ini?” tanyaku

“Tidak, tentu tidak. Dia bukan golonganku. Dia hanya salah satu yang ingin kutunjukkan malam ini”

“Maksudmu?” tanyaku yang tidak mengerti arah tujuan pembicaraan ini

“Orang ini, si manusia tanpa kepala adalah contoh manusia yang selalu bertindak tanpa menggunakan akal sehatnya. Dia bergerak sesuai kemauan tanpa peduli resiko dan akibat. Padahal kau kan tau, manusia adalah makhluk sempurna dan mulia. Diciptakan-Nya akal sehat agar manusia dapat menjaga, bukan sebaliknya. Di ujung sana, ada manusia yang hampir serupa dengan kita, bedanya dia tanpa telinga, sebelahnya duduk si tanpa mata, kau pasti mengerti apa alasannya. Mereka makhluk yang tidak mau mendengar dan melihat kenyataan dan kebaikan. Mereka bertindak hanya demi kepentingan pribadi semata”

Bulu kudukku berdiri tegak. Seolah tertampar hingga terjelembab

“Di sana, ada manusia yang dadanya berongga. Kosong dan bolong. Mereka tidak pernah menggunakan hati, selalu tertutup dan terkunci. Lupa akan harga diri, memilih berani mati hanya untuk kepuasan sendiri. Manusia jenis ini yang saat ini sedang berkembang dan menyebar luas. Tanpa menyadari mereka hidup tanpa hati”

Aku terduduk diam mendengar penjelasan adik kecil di sebelahku. Dia menghampiriku, menepuk pundakku sebelum akhirnya memelukku

“Masih ada kesempatan sebelum kau bergabung dengan mereka, Lea. Kau masih bisa menjadi aku, kau orang baik, maka jaga dirimu baik-baik”

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. Mistaraa says:

    Sumpah! Ngena banget. Sukaaa~

    Like

    1. monikmocil says:

      Makasiii makasi :”)

      Like

      1. Mistaraa says:

        Iyaa sama sama

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s